Aku Sesal Berujung Balas Dendam


Halo semua. Perkenalkan Aku Sylvia. Disini Aku mau nyeritain bagaimana penyesalanku memakai Zenius, yah penyesalan yang akhirnya membawaku ke salah satu kampus terbaik di Indonesia, UGM, dan menjadi salah satu dari mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan ’18. 
Ini terjadi sekitar setahun yang lalu, bermula dari sama sekali gak kenal sama Zenius. Let’s throwback.
Tahun 2018 kemarin masih ingatkan banyak banget bermunculan platform-platform belajar online dan offline? Apalagi pas menjelang masuk semester genap? Wuihh, gak kehitung deh pokoknya, dari yang masuk ke setiap kelas di setiap sekolahku, di iklan TV, bahkan di iklan Youtube. Ada yang nawarin paket belajar kilat hingga bimbingan yang sampai berbulan-bulan.

Sebagai siswa kelas XII tentunya penawaran-penawaran tadi terutama yang ­on the spot atau yang masuk di kelas sangat bermanfaat bagiku—selain karena guru pelajaran jadi gak masuk hehe—untuk tahu mana nih yang terbaik agar Aku gak asal pilih. Kalau kata guru-guru itu “Jangan kalah sebelum berperang”, jadi Aku mau milih nih amunisi yang tepat untuk menghadapi dua sampai tiga perang; Ujian Nasional, SBMPTN, Ujian Tulis.
Amunisi ini harus sesuai dengan gaya belajarku. Aku suka dengan gaya belajar visual, tapi biasanya Aku mudah jenuh, kemudian memilih gaya belajar audiovisual. Selain itu, Aku gak suka dengan model belajar yang mengharuskan untuk menghadiri kelas, terpatok dengan jadwal, ketemu dengan banyak orang. Dengan pertimbangan-pertimbangan itu, Aku memutuskan untuk tidak mengikuti bimbingan belajar dalam bentuk les, tapi online.
Singkatnya, salah satu temanku sharing kalau dia user Zenius. Aku iseng nanya, bagus gak sih Zenius, harganya berapa, mudah dimengerti gak, dan beberapa pertanyaan lain. Memang Zenius udah sering Aku buka sih, tapi yang Aku lihat cuman blog yang isinya artikel-artikel, seperti tips dan trik belajar SBMPTN, konsep deliberate practice, dan beberapa artikel pengetahuan umum.  
Tak butuh lama untuk menjatuhkan pilihan kepada Zenius, karena waktu itu kan memang kondisinya udah semester 2 jadi pikirku Aku harus cepat dapat nih biar aman—hehehe pikiran anak SMA—dan Aku pun membeli voucher 12 bulan dari Zenius. Kenapa gak Xpedia? Nah, tempat Aku tinggal tuh lumayan jauh dari pusat kota yang ada Gramedia-nya, jadi karena takut kelamaan nunggu, Aku pilih yang voucher aja.
Beberapa waktu berlalu setelah Aku membeli voucher Zenius. Berhubung waktu itu awal semester 2, Aku belum sempat—atau memang belum kepikiran—untuk ngorek materi-materi Zenius. Belajarku belum melibatkan Zenius, jadi sama seperti model belajar yang kemarin, buku cetak dan catatan. Itu kulalui selama beberapa minggu bahkan hingga sebulan mungkin. Aku belum kepikiran untuk belajar pakai Zenius, entah kenapa. Pikiran saat itu mungkin “Zenius untuk persiapkan SBMPTN sama Ujian Tulis, NANTI AJA”
            Kalau sekarang ingat “pengabaian” ini Aku jadi kepikiran bagaimana belajarku pada awal semester 2 gak ada WAH-nya sama sekali—sama  seperti awal-awal semester sebelumnya—Aku belum merasakan belajar yang mengasyikkan.
            Hingga dimana saat itu tiba. Suatu hari seperti biasa, pelajaran matematika ada di kelasku. Nah, materi matematika itu untuk pertama kalinya—biasanya agak bingung—Aku bingung banget, sama sekali gak ngerti. Mau nanya teman, teman-teman lain juga gak ngerti. Gawat nih, apalagi gurunya killer—­tempat dudukku ada diurutan kedua—terus besok matematika ada lagi. Ditambah, model mengajar guruku ini juga nunjuk-nunjuk gitu, jadi Aku makin cemas. Aku kepikiran terus nih, gimana ya, sampai perjalanan pulang ke rumah Aku juga kepikiran.
            Hidayah itu pun tiba saat Aku coba browsing materi itu lagi—siapatau dapat materi yang mencerahkan—akhirnya aku udah pilih beberapa website yang menurutku bagus. Ternyata salah satu website yang Aku pilih itu adalah zenius.net. Disitu Aku belum kepikiran untuk login. Di zenius.net itu ada beberapa video kan, yang terputar itu adalah video pertama yang berisikan konsep dasar pertama dari materi tersebut.
            Video pertama itu secara gamblang ngejelasin bagaimana sih sebenarnya materi itu, kenapa materi itu dikembangin sampai sedemikian rupa, pokoknya gak langsung hajar dengan rumus. Wah, Aku jatuh cinta dong. Otakku seolah sudah mendapatkan secercah cahaya tentang materi ini.
            Langsung dong Aku lanjutkan video berikutnya untuk dapat cercaan cahaya lebih. Gak bisa ternyata, harus merupakan user Zenius, ingatlah Aku kalau beberapa minggu kemarin aku daftar dan beli voucher 12 bulan Zenius. Hiyaa,, langsunglah Aku buka e-mail cari pesan masuk dari Zenius yang isinya kode voucher. Setelah itu Aku kembali ke website Zenius, login e-mail dan password kemudian ke menu voucher untuk ngisi kode voucher. Akhirnya.
Semenjak itu Aku sering banget buka Zenius, walau materi yang diberiin oleh guru, materi yang ada di buku cetak udah lengkap banget. Karena menurutku sih Zenius itu BEDA banget. Okelah buku cetak juga bagus, tapi itu menurutku sebagai komplementer aja dari Zenius—biasanya buku langsung memberi rumus tanpa pendalaman rumus dan konsep—rasanya kalau gak buka Zenius ada sesuatu yang hilang.
Zenius buat Aku sadar kalau pemahaman konsep udah kuat, diberi rumus dan teori apapun kita akan tetap mengerti. Tahu gak apa dipikiranku waktu itu? Iya, aku mikir kenapa sih semenjak dapat kode aktivasi gak langsung login kemudian isi kode-nya. Kenapa juga aku kepikiran kalau Zenius itu hanya untuk SBMPTN dan Ujian Tulis, padahal materi Zenius asyik untuk materi di kelas.
Setelah kejadian itu, aku bertekad untuk mengulang seluruh materi SMA dari kelas X hingga XII ini dengan Zenius—sekalian belajar untuk SBMPTN sama Ujian Tulis—bisa dibilang balas dendam sih. Dan... I did it. Aku berhasil ngulang semua itu dengan mantap, Alhamdulillah. 
Hingga akhirnya Aku keterima di Fakultas Kedokteran Hewan melalui jalur UTUL UGM. Aku berterima kasih kepada semua orang yang telah mendoakanku dan mendukungku hingga akhirnya diterima. Aku juga berterima kasih dengan penyesalan yang membawaku kepada balas dendam sehingga Aku resmi menyandang status mahasiswa di universitas impianku ini; terima kasih Zenius.
Oh iyaa yang terakhir nih. Semenjak menjadi pengguna Zenius dan sering pantengin video Zenius, pikiranku itu kebuka. Maksudnya, pola pikirku menjadi luas dan menurutku itu sangat baik. Kalau kalian tahu yah, zaman sebelum Aku pakai Zenius, Aku ngapalin poin-poin atau bahkan rumus pakai jembatan keledai loh. Contoh kecilnya nih, urutan taksonomi hewan dan tumbuhan dari kerajaan hingga jenis, Aku hafalinnya jadi "KERA LUSI KE BANGKU MANIS". Yah emang sih sampai sekarang Aku masih hafal itu, tapi esensinya gak nyantol sama sekali di otak.
Aku harap bagi kalian yang udah baca blog ini dan merupakan user Zenius, aku ucapkan selamat, you're in the right way. Tapi, bagi kalian yang belum; kalian butuh untuk baca blog Zenius dulu, lihat video pertama Zenius di setiap materi—karena gratis—niscaya akan jatuh cinta, sama seperti Aku.
Sekian dari Aku,
Arigatou gozaimasu….

Malam yang dingin
Yogyakarta, 13 Januari 2019
Sylvia Dewi Ratnaningrum

Komentar

Postingan Populer