Kucing Obesitas: Lucu Tapi Berbahaya!
Di Indonesia, kucing masih menjadi peliharaan favorit keluarga. Hampir tiap rumah pasti memiliki kucing, entah itu berjumlah satu hingga puluhan kucing, dilepas ataupun dijaga agar tetap di dalam rumah. Tidak hanya dalam skala keluarga, beberapa teman kuliah penulis yang tinggal di kost-kostan bahkan memelihara kucing di dalam kamarnya. Ini menunjukkan bagaimana sayangnya mereka terhadap kucing dan juga menunjukkan bagaimana ‘menghipnotisnya’ kucing. Persahabatan antara kucing dan manusia ternyata telah ada sejak dulu. Ini dibuktikan dengan ditemukannya fosil manusia dan kucing yang berada dalam kuburan yang sama di Pulau Cypruss, diperkirakan dikubur pada tahun 6000 SM. Bukti lain keeksistensian kucing juga dapat dilihat dari perilaku orang-orang Mesir kuno yang menganggap bahwa kucing sebagai hewan sakral, oleh karena itu, mereka akan melakukan mumifikasi pada kucing yang telah mati.
Agar memiliki kucing yang sehat dan menggemaskan maka pemilik tak segan-segan untuk memberikan perawatan terbaik. Mulai dari segi kandang, kebersihan badan, dan juga pakan sehari-hari. Tentu ini sangat baik untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan kucing. Namun, ada bahaya yang rentan terjadi saat perawatan kucing yang diakibatkan kesalahan asuh, yakni obesitas. Ada yang beranggapan bahwa kucing dengan tubuh bulat dan sangat berisi lebih menggemaskan. Mereka mungkin terjebak dalam paradigma bahwa kucing selalu baik-baik saja dengan keadaan gemuk asal tidak dalam keadaan kurus.
Pendeteksian gejala obesitas dapat dilakukan dengan mudah yakni dengan membelainya dan memperhatikannya secara teliti. Indikator yang dapat dilihat adalah sebagai berikut. Pertama, rusuk dan tulang punggung tidak boleh terlihat namun dapat terasa apabila diraba. Kedua, apabila dilihat dari atas, pinggang terlihat jelas dan perut yang tidak melorot. Ketiga, sentuh tulang rusuk, apabila sulit dan mengharuskan untuk menekan, maka kucing mengalami obesitas. Ketiga indikator dapat jadi patokan disamping melihat dari patokan bobot badan ideal kucing yang biasanya terjadi di umur 12 bulan.
Obesitas kucing umumnya terjadi pada kucing dengan gaya asuh pemeliharaan indoor, sedangkan pada kucing outdoor ini sangat kecil kemungkinan terjadi karena aktivitas insting berburu yang tinggi setidaknya empat jam per hari. Kucing indoor yang telah disterilkan akan mengalami peningkatan nafsu makan harian sebesar 20%, sementara keinginan untuk beraktivitas dan bergerak akan turun 30%. Selain itu, kurangnya alat permainan yang memicu kucing untuk bergerak akan mengakibatkan kemungkinan untuk mengalami obesitas semakin tinggi.
Lantas, seberapa bahayakah obesitas bagi kucing? Mungkinkah memicu penyakit lain atau bahkan kematian? Jawabannya adalah ya. Pertama, obesitas dapat menyebabkan diabetes mellitus. DM ditandai dengan tingginya kadar glukosa dalam darah dan ketidakmampuan pankreas untuk menghasilkan insulin secara maksimal. Langkah yang harus diambil adalah pemberian insulin sesuai dengan petunjuk dokter hewan.
Selain itu, obesitas akan menyebabkan kesulitan bergerak pada kucing. Penimbunan lemak pada tubuh menyebabkan sulitnya alat gerak tubuh, sehingga lama-kelamaan akan menekan sendi secara berlebihan sehingga lama kelamaan menjadi kaku bahkan tidak dapat bergerak (pincang) karena mengalami osteoarthritis atau peradangan pada sendi bahkan mengalami hip dysplasia akibat tekanan berlebih dari bobot badan.
Melihat bahaya dari obesitas ini, maka perlulah untuk pemilik kucing indoor memperhatikan mainan-mainan kucing yang akan memicu pergerakan kucing disamping nutrisi yang selalu terjaga dengan mengutamakan makanan tinggi protein.
Sumber:
Susanty, Y. 2005. Memilih dan Merawat Kucing Kesayangan. Yogyakarta: AgroMedia Pustaka.
https://tanyadokterhewan.com/2017/01/23/5-penyakit-berbahaya-jika-anjing-dan-kucing-anda-obesitas/

Komentar
Posting Komentar